Makalah Hujan Asam (Acid Rain)
KATA
PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke
hadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat dan petunjuk-Nya
sehingga makalah yang berjudul “Hujan Asam (Acid Rain)” ini dapat
terselesaikan tepat pada waktunya.
Makalah ini disusun berdasarkan
berbagai sumber yang relevan dengan materi yang disajikan dalam makalah ini.
Adapun materi yang dipaparkan adalah mengenai apa yang dimaksud dengan hujan
asam, apa penyebab terjadinya hujan asam, bagaimana dampak hujan asam terhadap
penurunan manusia dan lingkungan, dan bagaimana upaya yang dapat ditempuh untuk
mencegah terjadinya hujan asam.
Penulis menyadari bahwa makalah ini
masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran dari semua
pihak yang bersifat konstruktif sangat penulis harapkan guna kesempurnaan
makalah ini.
Akhir kata penulis ucapkan terima
kasih, semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis maupun bagi para
pembacanya.
Depok, 9 Mei 2012
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR ………………………………………………………………………..
i
DAFTAR ISI ………………………………………………………………..
ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
……………………………………………………………
1
1.2 Rumusan Masalah
…………………………………………………………
2
1.3 Tujuan Penulisan
………………………………………………………….
2
1.4 Manfaat Penulisan
…………………………………………………………………………
2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi Hujan Asam
………………………………………………………………………
4
2.2 Proses Terbentuknya Hujan Asam ….………………………………………………..
8
2.3 Dampak Hujan Asam Terhadap
Kehidupan Manusia dan Lingkungan…….
11
2.4 Upaya-Upaya Untuk mengurangi dan
Mencegah Dampak Hujan
Asam…………………………………………………………………………………………….
15
BAB III PENUTUP
3.1 Simpulan
…………………………………………………..………………… 17
3.2 Saran
………………………………………………………………………………………………
17
DAFTAR PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Dengan semakin meningkatnya ilmu
pengetahun dan teknologi (IPTEK), semakin tinggi pula aktivitas kegiatan
ekonomi manusia, di antaranya dengan semakin pesatnya perkembangan sektor
industri dan sistem transportasi. Sebagai konsekuensi logis, maka semakin dampaknya
akan meningkatkan pula zat-zat polutan yang dikeluarkan kegiatan industri
maupun transportasi tersebut. Keberadaan zat-zat polutan di udara ini tentu
akan berpengaruh terhadap proses-proses fisik dan kimia yang terjadi di udara.
Beberapa contoh efek negatif perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
menjadi isu-isu global antara lain efek rumah kaca, pemanasan global, polusi,
sampah, dan hujan asam.
Istilah hujan asam pertama kali
digunakan Robert Angus Smith pada tahun 1972. Ia menguraikan tentang keadaan di
Manchester, sebuah kawasan industri di bagian utara Inggris. Hujan asam ini
pada dasarnya merupakan bagian dari peristiwa terjadinya deposisi asam. Ia
mengatakan bahwa bahan pencemar di udara yang bercampur dengan air hujan
bersenyawa menjadi asam dan menyebabkan kerusakan bangunan dan monumen
bersejarah. Pada dasarnya, air hujan normal memang sudah asam dengan kadar
keasaman antara pH 5,6- 5,0. Keasaman ini dihasilkan ketika karbondioksida dan
materi asam alami lainnya terurai dalam uap air yang bercampur di udara.
Masalah itu masih terjadi hingga
kini dan kita tahu bahwa banyak gas polutan yang menyebabkan pencemaran udara.
Ini termasuk sulfur dioksida yang umumnya dihasilkan oleh pembangkit tenaga
listrik yang menggunakan batubara, dan nitrogen oksida dari kendaraan bermotor
serta bahan bakar fosil yang digunakan oleh industri. Kedua unsur tersebut
bersenyawa di atmosfer dengan air, oksigen, dan oksidan dari senyawa-senyawa
asam lainnya. Persenyawaan ini membentuk semacam lapisan gabungan antara asam
sulfur dan asam nitrat. Cahaya matahari mempercepat laju reaksi proses itu.
Hujan asam menyebabkan peningkatan kadar asam di tanah, danau-danau, sungai
serta menyebabkan kematian pohon. Selain itu asam juga merusak material gedung,
patung-patung dan peninggalan sejarah.
Mengingat begitu besar dampak yang
ditimbulkan oleh hujan asam terhadap kehidupan manusia dan lingkungan, maka
pada makalah ini akan dibahas mengenai bagaimana hujan asam terbentuk, dampak
hujan asam terhadap manusia dan lingkungan, serta usaha yang dapat kita lakukan
untuk mengurangi dan mencegah terjadinya hujan asam.
1.2
Rumusan Masalah
Ada beberapa rumusan yang ingin
dibahas dalam makalah yang akan membahas tentang hujan asam, antara lain:
- Apa yang dimaksud dengan hujan asam?
- Bagaimanakah proses terbentuknya hujan asam?
- Bagaimanakah dampak atau akibat yang ditimbulkan oleh hujan asam terhadap kehidupan manusia dan lingkungan?
- Upaya apasajakah yang dapat ditempuh untuk mengurangi dan menegah terjadinya hujan asam?
1.3
Tujuan
Sesuai dengan rumusan masalah yang
telah dikemukakan diatas, maka penulis merumuskan beberapa tujuan yang ingin
dicapai, antara lain:
- Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan hujan asam.
- Untukmengetahui proses terbentuknya hujan asam.
- Untuk mengetahui dampak atau akibat yang ditimbulkan oleh hujan asam terhadap kehidupan manusia dan lingkungan.
- Untuk mengetahui upaya yang dapat ditempuh untuk mengurangi dan menegah terjadinya hujan asam.
1.4
Manfaat
Manfaat yang diharapkan dari
penulisan makalah ini adalah memberikan kita pengentahuan dan wawasan mengenai
apa yang dimaksud dengan hujan asam, mengetahui tentang proses terjadinya hujan
asam, dampak yang ditimbulkan oleh hujan asam terhadap kehidupan manusia dan
lingkungan, dan usaha yang dapat kita lakukan untuk mengurangi dan mencegah
dampak buruk yang ditimbulkan oleh hujan asam. Pengetahuan ini diharapkan
semoga mampu meningkatkan kesadaran kita untuk menjaga lingkungan serta mengubah
pola hidup untuk mendukung pelestarian lingkungan hidup.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
Definisi Hujan Asam
Fenomena hujan asam mulai dikenal
sejak akhir abad 17, hal ini diketahui dari buku karya Robert Boyle pada tahun
1960 dengan judul “A General History of the Air“. Buku tersebut
menggambarkan fenomena hujan asam sebagai “nitrous or salino-sulforus spiris“.
Selanjutnya revolusi industri di
Eropa yang dimulai sekitar awal abad ke 18 memaksa penggunaan bahan bakar
batubara dan minyak sebagai sember utama energi untuk mesin-mesin. Sebagai
akibatnya, tingkat emisi precursor (faktor penyebab) dari
hujan asam yakni gas-gas SO2, NOx dan HCl meningkat. Padahal
biasanya precussor ini hanya berasal dari gas-gas gunung berapi dan kebakaran
hutan.
Istilah hujan asam pertama kali
digunakan oleh Robert Angus Smith pada tahun 1872 pada saat menguraikan keadaan
di Manchester, sebuah daerah industri di Inggris bagian utara. Smith
menjelaskan fenomena hujan asam pada bukunya yang berjudul “Air and Rain:
The Beginnings of Chemical Technology“.
Hujan asam adalah hujan yang
bersifat asam daripada hujan biasa (Hunter BT, 2004 dalam Rahardiman, Arya.
2009). Deposit asam dari atmosfer dapat bersifat abash (dari hujan, salju, atau
hujan es) atau kering (dari pertukaran turbulen dan pengaruh gravitasi yang
tidak berkaitan dengan hujan). Hujan asam dikenal pertama kali pada
tahun 1950, yaitu pada saat hujan asam tersebut memberikan dampak negative
berupa air yang bersifat asam di danau Skandinavia dan Kanada (Mukono, 2000 dalam
Rahardiman, Arya. 2009).
Istilah keasaman berarti
bertambahnya ion hydrogen ke dalam suatu lingkungan. Suatu lingkungan akan
bersifat asam jika kemasukan ion hydrogen yang bersal dari asam sulfat (H2SO4)
dan atau asam nitrat (HNO3). Satu reaksi penting dalam oksidasi
sulfur dioksida adalah antara sulfur dioksida yang terlarut dan hydrogen
peroksida.
Masalah hujan asam dalam skala yang
cukup besar pertama terjadi pada tahun 1960-an ketika sebuah danau di
Skandinavia meningkat keasamannya hingga mengakibatkan berkurangnya populasi
ikan. Hal tersebut juga terjadi di Amerika Utara, pada masa itu pula banyak
hutan-hutan di bagian Eropa dan Amerika yang rusak. Sejak saat itulah dimulai
berbagai usaha penaggulangannya, baik melalui bidang ilmu pengetahuan, teknis
maupun politik.
Hujan yang normal seharusnya adalah
hujan yang tidak membawa zat pencemar dan dengan pH 5,6. Air hujan memang
sedikit asam karena H2O yang ada pada air hujan bereaksi dengan CO2
di udara. Reaksi tersebut menghasilkan asam lemah H2CO3
dan terlarut di air hujan. Apabila air hujan tercemar dengan asam-asam kuat,
maka pH-nya akan turun dibawah 5,6 maka akan terjadi hujan asam.
Hujan asam sebenarnya dapat
mencegah global warming, gas buang seperti SO2 penyebab
hujan asam mampu memantulkan sinar matahari keluar atmosfer bumi sehingga dapat
mencegah kenaikan temperatur bumi. Akan tetapi, efek samping dari hujan asam
menghasilkan kerusakan lingkungan yang lebih parah dibandingkan global
warming. Sebenarnya “hujan asam” merupakan istilah yang kurang tepat untuk
menggambarkan jatuhnya asam-asam dari atmosfer ke permukaan bumi. Istilah yang
lebih tepat seharusnya adalah deposisi asam, karena pengendapan asam dari
atmosfir ke permukaan bumi tidak hanya melalui air hujan tetapi juga melalui
kabut, embun, salju, aerosol bahkan pengendapan langsung. Istilah deposisi asam
lebih bermakna luas dari hujan asam.
(Sumber:
Ophardt, C.O., (2003)).
Karena hujan asam terlihat, dan
rasanya seperti air bersih, pengukuran pH diambil untuk menentukan keasaman
yang dimilikinya. Menurut US Environmental Protection Agency, air murni
memiliki pH 7,0, dan hujan normal memiliki pH sekitar 5.6 (Howard, Rhonda,
2010). Nilai 7,0 dianggap netral, Nilai yang lebih tinggi dari 7,0 semakin
alkali atau dasar, Nilai lebih rendah dari 7,0 semakin asam. ilustrasi di atas
juga menggambarkan pH dari beberapa zat umum
Deposisi asam ada dua jenis, yaitu
deposisi kering dan deposisi basah. Deposisi kering ialah peristiwa kerkenanya
benda dan mahluk hidup oleh asam yang ada dalam udara. Ini dapat terjadi pada
daerah perkotaan karena pencemaran udara akibat kendaraan maupun asap pabrik.
Selain itu deposisi kering juga dapat terjadi di daerah perbukitan yang terkena
angin yang membawa udara yang mengandung asam. Biasanya deposisi jenis ini terjadi
dekat dari sumber pencemaran.
Deposisi basah ialah turunnya asam
dalam bentuk hujan. Hal ini terjadi apabila asap di dalam udara larut di dalam
butir-butir air di awan. Jika turun hujan dari awan tadi, maka air hujan yang
turun bersifat asam. Deposisi asam dapat pula terjadi karena hujan turun
melalui udara yang mengandung asam sehingga asam itu terlarut ke dalam air
hujan dan turun ke bumi. Asam itu tercuci atau wash out. Deposisi jenis
ini dapat terjadi sangat jauh dari sumber pencemaran.
Beberapa penyebab hujan asam diantaranya :
Beberapa penyebab hujan asam diantaranya :
- Pada dasarnya Hujan asam disebabkan oleh 2 polutan udara, Sulfur Dioxide (SO2) dan nitrogen oxides (NOx) yang keduanya dihasilkan melalui pembakaran. Akan tetapi sekitar 50% SO2 yang ada di atmosfer diseluruh dunia terjadi secara alami, misalnya dari letusan gunung berapi maupun kebakaran hutan secara alami.
Sedangkan 50% lainnya berasal dari
kegiatan manusia, misalnya akibat pembakaran BBF, peleburan logam dan
pembangkit listrik. Minyak bumi mengadung belerang antara 0,1% sampai 3% dan
batubara 0,4% sampai 5%. Waktu BBF di bakar, belerang tersebut beroksidasi
menjadi belerang dioksida (SO2) dan lepas di udara. Oksida belerang
itu selanjutnya berubah menjadi asam sulfat.
Oksida nitrogen, atau NOx, dan
sulfur dioksida, atau SO2, adalah dua sumber utama hujan asam. Sulfur
dioksida, yang merupakan gas tidak berwarna, dilepaskan sebagai produk
oleh-ketika bahan bakar fosil yang mengandung belerang yang terbakar.
Gas ini dihasilkan karena berbagai
proses industri, seperti pengolahan minyak mentah, pabrik utilitas, dan besi
dan pabrik baja. berarti alam dan bencana juga dapat mengakibatkan
belerang dioksida yang dilepaskan ke atmosfer, seperti vegetasi membusuk,
plankton, semprot laut, dan gunung berapi, yang semuanya memancarkan sekitar
10% belerang dioksida. Secara keseluruhan, pembakaran industri bertanggung
jawab atas 69,4% emisi sulfur dioksida ke atmosfer, dan transportasi kendaraan
bertanggung jawab atas sekitar 3,7% (Anonim , 2009).
- NOx juga berasal dari aktifitas jasad renik yang menggunakan senyawa organik yang mengandung N. Oksida N merupakan hasil samping aktifitas jasad renik itu. Di dalam tanah pupuk N yang tidak terserap tumbuhan juga mengalami kimi-fisik dan biologik sehingga menghasilkan N. Karena itu semakin banyak menggunakan pupuk N, makin tinggi pula produksi oksida tersebut.
- Hujan asam juga dapat terbentuk melalui proses kimia dimana gas sulphur dioxide atau sulphur dan nitrogen mengendap pada logam serta mengering bersama debu atau partikel lainnya.
Berdasarkan penelitian yang
dilakukan oleh National Atmospheric Deposition Program di Amerika,
menunjukkan bahwa pada Tahun 2004 terjadi hujan asam yang diperkirakan
disebabkan oleh pembangkit listrik di New Jersey atau Michigan.
Adapun Gambar 1 tentang hujan asam
yang terjadi di kawasan tersebut adalah sebagai berikut:
Gambar 1. Hujan Asam yang disebabkan oleh pembangkit listrik di New
Jersey atau Michigan.
(Sumber:
National Atmospheric Deposition Program dalam Likens, Gene (2010) )
2.2
Proses Terbentuknya Hujan Asam
Deposisi asam terjadi apabila asam
sulfat, asam nitrat, atau asam klorida yang ada do atmosfer baik sebagai gas
maupun cair terdeposisikan ke tanah, sungai, danau, hutan, lahan pertanian,
atau bangunan melalui tetes hujan, kabut, embun, salju, atau butiran-butiran
cairan (aerosol), ataupun jatuh bersama angin.
Asam-asam tersebut berasal dari
prekursor hujan asam dari kegiatan manusia (anthropogenic) seperti emisi
pembakaran batubara dan minyak bumi, serta emisi dari kendaraan bermotor. Kegiatan
alam seperti letusan gunung berapi juga dapat menjadi salah satu penyebab
deposisi asam. Reaksi pembentukan asam di atmosfer dari prekursor hujan asamnya
melalui reaksi katalitis dan photokimia. Reaksi-reaksi yang terjadi cukup
banyak dan kompleks, namun dapat dituliskan secara sederhana seperti dibawah
ini.
- 1. Pembentukan Asam Sulfat (H2SO4)
Gas SO2, bersama dengan
radikal hidroksil dan oksigen melalui reaksi photokatalitik di atmosfer, akan
membentuk asamnya.
SO2
+ OH → HSO3
HSO3
+ O2 → HO2 + SO3
SO3
+ H2O → H2SO4
Selanjutnya apabila diudara terdapat
Nitrogen monoksida (NO) maka radikan hidroperoksil (HO2) yang
terjadi pada salah satu reaksi diatas akan bereaksi kembali seperti:
NO
+ HO2 → NO2 + OH
Pada reaksi ini radikal hidroksil
akan terbentuk kembali, jadi selama ada NO diudara, maka reaksi radikal
hidroksil akan terbantuk kembali, jadi semakin banyak SO2, maka akan
semakin banyak pula asam sulfat yang terbentuk.
- 2. Pembentukan Asam Nitrat (HNO3)
Pada siang hari, terjadi reaksi
photokatalitik antara gas Nitrogen dioksida dengan radikal hidroksil.
NO2
+ OH → HNO3
Sedangkan pada malam hari terjadi
reaksi antara Nitrogen dioksida dengan ozon
NO2
+ O3 → NO3 + O2
NO2
+ NO3 → N2O5
N2O5
+ H2O → HNO3
Didaerah peternakan dan pertanian
akan concong menghasilkan asam pada tanahnya mengingat kotoran hewan banyak
mengandung NH3 dan tanah pertanian mengandung urea. Amoniak di tanah
semula akan menetralkan asam, namun garam-garam ammonia yang terbentuk akan teroksidasi
menjadi asam nitrat dan asam sulfat. Disisi lain amoniak yang menguap ke udara
dengan uap air akan membentuk ammonia hingga memungkinkan penetralan asam yang
ada di udara.
HNO3 sangat asam dan
larut dengan baik sekali. Selain itu juga merupakan asam keras dan reaktif
terhadap benda-benda lain yang menyebabkan korosif. Oleh sebab itu,
presipitasinya akan merusak tanaman terutama daun (Manahan, 1994 dalam
Rahmawaty, 2002).
- 3. Pembentukan Asam Chlorida (HCl)
Asam klorida biasanya terbentuk di lapisan
stratosfer, dimana reaksinya melibatkan Chloroflorocarbon (CFC) dan
radikal oksigen O*
CFC
+ hv(UV) → Cl* + produk
CFC
+ O* → ClO + produk
O*
+ ClO → Cl* + O2
Cl
+ CH4 → HCl + CH3
Reaksi diatas merupakan bagian dari
rangkaian reaksi yang menyebabkan deplesi lapisan ozon di stratosfer.
Perbandingan ketiga asam tersebut dalam hujan asam biasanya berkisar antara 62
persen oleh Asam Sulfat, 32 persen Asam Nitrat dan 6 persen Asam Chlorida.
Pulau Jawa memiliki tingkat emisi
penyebab hujan asam tertinggi di Indonesia, terutama disebabkan oleh sebagian
besar kegiatan perekonomian yang terpusat di pulau ini. Pada tahun 1989,
tingkat precursor SOx di Indonesia mencapat 157.000 ton per tahun, sedangkan
NOx mencapai 175.000 ton per tahun. Kota Surabaya pada tahun 2000 tercatat
mengemisikan 0,26 ton SO2 dan 66,4 ton NOx ke udara dari berbagai sumber
pencemar (Musfil A.S., (2008) dalam Sumahamijaya, I., (2009)).
Mekanisme proses terbentuknya hujan
asam, dapat diamati pada Gambar 2 berikut:
Gambar 2. Mekanisme Terbentuknya Hujan Asam
(Sumber:
PhysicalGeography.net
dalam Likens, Gene, 2010)
Secara alami hujan asam dapat
terjadi akibat semburan dari gunung berapi dan dari proses biologis di tanah,
rawa, dan laut. Akan tetapi, mayoritas hujan asam disebabkan oleh aktivitas
manusia seperti industri, pembangkit tenaga listrik, kendaraan bermotor dan
pabrik pengolahan pertanian (terutama amonia). Gas-gas yang dihasilkan oleh
proses ini dapat terbawa angin hingga ratusan kilometer di atmosfer sebelum
berubah menjadi asam dan terdeposit ke tanah.
Hujan asam karena proses industri telah menjadi masalah yang penting di Republik Rakyat Cina, Eropa Barat, Rusia dan daerah-daerah di arahan anginnya. Hujan asam dari pembangkit tenaga listrik di Amerika Serikat bagian Barat telah merusak hutan-hutan di New York dan New England. Pembangkit tenaga listrik ini umumnya menggunakan batu bara sebagai bahan bakarnya.
Hujan asam karena proses industri telah menjadi masalah yang penting di Republik Rakyat Cina, Eropa Barat, Rusia dan daerah-daerah di arahan anginnya. Hujan asam dari pembangkit tenaga listrik di Amerika Serikat bagian Barat telah merusak hutan-hutan di New York dan New England. Pembangkit tenaga listrik ini umumnya menggunakan batu bara sebagai bahan bakarnya.
Bukti terjadinya peningkatan hujan
asam diperoleh dari analisa es kutub. Terlihat turunnya kadar pH sejak
dimulainya revolusi industri dari Ph 6 menjadi 4,5 atau 4. Informasi lain
diperoleh dari organisme yang dikenal sebagai diatom yang menghuni kolam-kolam.
Setelah bertahun-tahun, organisme-organisme yang mati akan mengendap dalam
lapisan-lapisan sedimen di dasar kolam. Pertumbuhan diatom akan meningkat pada
pH tertentu, sehingga jumlah diatom yang ditemukan di dasar kolam akan
memperlihatkan perubahan pH secara tahunan bila kita melihat ke masing-masing
lapisan tersebut.
Sejak dimulainya Revolusi Industri,
jumlah emisi sulfur dioksida dan nitrogen oksida ke atmosfer turut meningkat.
Industri yang menggunakan bahan bakar fosil, terutama batu bara, merupakan
sumber utama meningkatnya oksida belerang ini. Pembacaan pH di area industri
terkadang tercatat hingga 2,4 (tingkat keasaman cuka). Penggunaan cerobong asap
yang tinggi untuk mengurangi polusi lokal berkontribusi dalam penyebaran hujan
asam, karena emisi gas yang dikeluarkannya akan masuk ke sirkulasi udara
regional yang memiliki jangkauan lebih luas. Sering sekali, hujan asam terjadi
di daerah yang jauh dari lokasi sumbernya, di mana daerah pegunungan cenderung
memperoleh lebih banyak karena tingginya curah hujan di sini.
2.3
Dampak Hujan Asam Terhadap Kehidupan Manusia dan Lingkungan
Terjadinya hujan asam harus
diwaspadai karena dampak yang ditimbulkan bersifat global dan dapat menggangu
keseimbangan ekosistem. Hujan asam memiliki dampak tidak hanya pada lingkungan
biotik, namun juga pada lingkungan abiotik, antara lain :
a)
Danau
Kelebihan zat asam pada danau akan mengakibatkan sedikitnya spesies yang bertahan. Terdapat hubungan yang erat antara rendahnya pH dengan berkurangnya populasi ikan di danau-danau. pH di bawah 4,5 tidak memungkinkan bagi ikan untuk hidup, sementara pH 6 atau lebih tinggi akan membantu pertumbuhan populasi ikan. Asam di dalam air akan menghambat produksi enzim dari larva ikan trout untuk keluar dari telurnya. Asam juga mengikat logam beracun seperi alumunium di danau. Alumunium akan menyebabkan beberapa ikan mengeluarkan lendir berlebihan di sekitar insangnya sehingga ikan sulit bernafas. Pertumbuhan Phytoplankton yang menjadi sumber makanan ikan juga dihambat oleh tingginya kadar pH.
Kelebihan zat asam pada danau akan mengakibatkan sedikitnya spesies yang bertahan. Terdapat hubungan yang erat antara rendahnya pH dengan berkurangnya populasi ikan di danau-danau. pH di bawah 4,5 tidak memungkinkan bagi ikan untuk hidup, sementara pH 6 atau lebih tinggi akan membantu pertumbuhan populasi ikan. Asam di dalam air akan menghambat produksi enzim dari larva ikan trout untuk keluar dari telurnya. Asam juga mengikat logam beracun seperi alumunium di danau. Alumunium akan menyebabkan beberapa ikan mengeluarkan lendir berlebihan di sekitar insangnya sehingga ikan sulit bernafas. Pertumbuhan Phytoplankton yang menjadi sumber makanan ikan juga dihambat oleh tingginya kadar pH.
Gambar mengenai dampak hujan asam
terhadap penurunan kualitas air danau atau air permukaan, dapat dicermati pada
gambar berikut:
Gambar 3. Dampak Hujan Asam Terhadap Penurunan Kualitas Air Danau
(Sumber:
PhysicalGeography.net
dalam Likens, Gene, 2010)
b)
Tanah
Efek tidak langsung dari hujan asam
adalah efek terhadap tanah. Gejala ini menyebabkan terjadinya pencucian
mineral seperti Ca, Mg, dan Potassium, yang merupakan yamg merupakan
mineral utama bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Mineral tersebut
digantikan oleh logam berat seperti Al, yang justru menghambat pertumbuhan akar
dan menghambat penyerapan air. Tanaman kemudian mulai mati, karena kekurangan
air. Adanya pelapukan dalam batang menandakan terjadinya kerusakan sistem
transportasi air pada tanaman. Dr. Ulrich dari Universitas Gottingen (Jerman)
menyimpulkan bahwa hujan asam menghambat beberapa pohon spruce dan beech
mencapai umur lebih dari 30 – 40 tahun (Nandika, Dodi.,2004).
c)
Tumbuhan
Tanaman dipengaruhi oleh hujan asam
dalam berbagai macam cara. Lapisan lilin pada daun rusak sehingga nutrisi
menghilang sehingga tanaman tidak tahan terhadap keadaan dingin, jamur dan
serangga. Pertumbuhan akar menjadi lambat sehingga lebih sedikit nutrisi yang
bisa diambil, dan mineral-mineral penting menjadi hilang.
Hujan asam yang larut bersama
nutrisi didalam tanah akan menyapu kandungan tersebut sebelum pohon-pohon dapat
menggunakannya untuk tumbuh. Serta akan melepaskan zat kimia beracun seperti
aluminium, yang akan bercampur didalam nutrisi. Sehingga apabila nutrisi ini
dimakan oleh tumbuhan akan menghambat pertumbuhan dan mempercepat daun
berguguran, selebihnya pohon-pohon akan terserang penyakit, kekeringan dan
mati.
d) Kesehatan
Manusia
Dampak deposisi asam terhadap
kesehatan telah banyak diteliti, namun belum ada yang nyata berhubungan
langsung dengan pencemaran udara khususnya oleh senyawa NOx dan SO2. Kesulitan
yang dihadapi dkarenakan banyaknya faktor yang mempengaruhi kesehatan
seseorang, termasuk faktor kepekaan seseorang terhadap pencemaran yang terjadi.
Misalnya balita, orang berusia lanjut, orang dengan status gizi buruk relatif
lebih rentan terhadap pencemaran udara dibandingkan dengan orang yang sehat.
Akan tetapi, kuat dugaan bahwa
ion-ion beracun yang terlepas akibat hujan asam menjadi ancaman yang besar bagi
manusia. Tembaga di air berdampak pada timbulnya wabah diare pada anak dan air
tercemar alumunium dapat menyebabkan penyakit Alzheimer. Walaupun hujan asam
ditemukan di tahun 1852, baru pada tahun 1970-an para ilmuwan mulai mengadakan
banyak melakukan penelitian mengenai fenomena ini. Kesadaran masyarakat akan
hujan asam di Amerika Serikat meningkat di tahun 1990-an setelah di New York
Times memuat laporan dari Hubbard Brook Experimental Forest in
New Hampshire tentang banyaknya kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh
hujan asam.
e)
Korosi
Hujan asam juga dapat mempercepat proses pengkaratan dari beberapa material seperti batu kapur, pasirbesi, marmer, batu pada diding beton serta logam. Ancaman serius juga dapat terjadi pada bagunan tua serta monument termasuk candi dan patung. Hujan asam dapat merusak batuan sebab akan melarutkan kalsium karbonat, meninggalkan kristal pada batuan yang telah menguap. Seperti halnya sifat kristal semakin banyak akan merusak batuan.
Hujan asam juga dapat mempercepat proses pengkaratan dari beberapa material seperti batu kapur, pasirbesi, marmer, batu pada diding beton serta logam. Ancaman serius juga dapat terjadi pada bagunan tua serta monument termasuk candi dan patung. Hujan asam dapat merusak batuan sebab akan melarutkan kalsium karbonat, meninggalkan kristal pada batuan yang telah menguap. Seperti halnya sifat kristal semakin banyak akan merusak batuan.
Lebih lanjut, Harjanto, N.T., (2008)
mengungkapkan beberapa dampak dari deposisi asam ini sangat luas yakni terhadap
makhluk hidup, vegetasi dan struktur bangunan seperti pada Tabel 1 dibawah ini
:
Tabel 1. Dampak Deposisi Asam
|
Dampak
terhadap
|
Keterangan
|
|
Makhluk
Hidup
|
|
|
Vegetasi
|
|
|
Stuktur
Bangunan
|
|
2.4
Upaya-Upaya Untuk Mengurangi dan Mencegah Dampak Dari Hujan Asam
Usaha untuk mengendalikan deposisi
asam ialah menggunakan bahan bakar yang mengandung sedikit zat pencemaran,
menghindari terbentuknya zat pencemar saar terjadinya pembakaran, menangkap zat
pencemar dari gas buangan dan penghematan energi.
a)
Menggunakan Bahan Bakar Dengan kandungan Belerang Rendah
Kandungan belerang dalam bahan bakar
bervariasi. Penggunaan gas asalm akan mengurangi emisi zat pembentuk asam, akan
tetapi kebocoran gas ini dapat menambah emisi metan. Usaha lain yaitu dengan
menggunakan bahan bakar non-belerang atau bahan bakar alternatif yang ramah
lingkungan, misalnya metanol, etanol dan hidrogen.
b)
Pengendalian Pencemaran Selama Pembakaran
Beberapa teknologi untuk mengurangi
emisi SO2 dan Nox pada waktu pembakaran telah dikembangkan. Salah satu
teknologi ialah lime injection in multiple burners (LIMB). Selain itu,
bisa juga dilakukan dengan penggunaan Scrubbers. Alat ini mampu
mengurangi emisi sulfur okida hingga 80-95 % (Ophardt, C.O., 2003).
c)
Pengendalian Setelah Pembakaran
Zat pencemar juga dapat dikurangi
dengan gas ilmiah hasil pembakaran. Teknologi yang sudah banyak dipakai ialah fle
gas desulfurization (FGD). Cara lain ialah dengan menggunakan amonia
sebagai zat pengikatnya sehingga limbah yang dihasilkan dapat dipergunakan
sebagi pupuk.
d)
Mengaplikasikan prinsip 3R (Reuse, Recycle, Reduce)
Hendaknya prinsip ini dijadikan
landasan saat memproduksi suatu barang, dimana produk itu harus dapat digunakan
kembali atau dapat didaur ulang sehingga jumlah sampah atau limbah yang
dihasilkan dapat dikurangi.
e)
Untuk mengurangi dampak buruk yang muncul dari hujan asam terhadap tanah
ataupun danau dapat dilakukan dengan menambahkan zat kapur kedalam tanah atau
kedalam danau. Penambahan kapur kedalam tanah maupun danau dapat menetralkan
sifat asam.
f)
Melakukan Reboisasi atau penanaman kembali. Keberhasilan program reboisasi dan
rehabilitasi lahan akan dapat meningkatkan produktivitas lahan dan kualitas
lingkungan terutama dalam aspek:
- Fungsi hidrologi
- Fungsi perlindungan tanah
- Stabilitas iklim mikro
- Penghasil O2, dan penyerap gas-gas pencemar udara
- Potensi sumberdaya pulih yang dapat dipanen
- Pelestarian sumberdaya plasma nutfah
- Perkembangbiakan ternak dan satwa liar
- Pengembangan kepariwisataan dan rekreasi
- Menciptakan kesempatan kerja
- Penyediaan fasilitas pendidikan dan penelitian.
Pada tahun 1970 Amerika mulai
mengontrol emisi SO2 dan NOx dengan peraturan pemerintah. Peraturan
ini menentukan standar polutan dari kendaraan bermotor dan industri. Pada tahun
1990 kongres menyetujui amandemen untuk lebih memperketat kontrol emisi yang
menyebabkan hujan asam. Amandemen tersebut tercatat mempu mengurangi
pengeluaran SO2 dari 23,5 juta ton menjadi sekitar 16 juta ton. US
juga merencanakan untuk mengurangi emisi NOx hingga 5 juta ton pada tahun 2010.
BAB
III
PENUTUP
3.1.
Kesimpulan
- Hujan asam didefinisikan sebagai segala macam hujan dengan pH di bawah 5,6. Hujan secara alami bersifat asam (pH sedikit di bawah 6) karena karbondioksida di udara yang larut dengan air hujan memiliki bentuk sebagai asam lemah.
- Hujan asam disebabkan oleh belerang (sulfur) yang merupakan pengotor dalam bahan bakar fosil serta nitrogen di udara yang bereaksi dengan oksigen membentuk sulfur dioksida dan nitrogen oksida. Zat-zat ini berdifusi ke atmosfer dan bereaksi dengan air untuk membentuk asam sulfat dan asam nitrat yang mudah larut sehingga jatuh bersama air hujan. Secara sedehana, reaksi pembentukan hujan asam sebagai berikut: Pada dasarnya Hujan asam disebabkan oleh 2 polutan udara, Sulfur Dioxide (SO2) dan nitrogen oxides (NOx) yang keduanya dihasilkan melalui pembakaran.
- Adapun beberapa dampak yang ditimbulkan oleh hujan asam antara lain Kelebihan zat asam pada danau akan mengakibatkan sedikitnya species yang bertahan, hujan asam yang larut bersama nutrisi didalam tanah akan menyapu kandungan tersebut sebelum pohon-pohon dapat menggunakannya untuk tumbuh, korosi dan menyebabkan terganggunya kesehatan manusia.
- Usaha untuk mengendalikan deposisi asam ialah menggunakan bahan bakar yang mengandung sedikit zat pencemar, menghindari terbentuknya zat pencemar saar terjadinya pembakaran, menangkap zat pencemar dari gas buangan dan penghematan energi serta penambahan zat kapur.
3.2.
Saran
Agar pemerintah dan masyarakat baik
dari kalangan industri maupun umum, untuk bekerja sama dalam menjalankan
peraturan yang berkaitan dengan upaya penurunan polusi udara agar dapat terlaksana
dan diterapkan dengan baik dan seksama. Dengan penurunan polusi udara,
diharapkan akan mampu mencegah terjadinya hujan asam yang membawa akibat buruk
tidak hanya erhadap lingkungan namun terhadap kelangsungan hidup manusia.
Daftar
Pustaka
Anonim . 2009. Cause and Effects
of Acid Rain. Diperoleh dari: http://www.buzzle.com/ articles/ causes – and – effects – of
– acid –rain.html. Diakses pada: 4 Mei 2012.
Harjanto, N.T., 2008. Dampak
Lingkungan Pusat Listrik Tenaga Fosil Dan Prospek Pltn Sebagai Sumber Energi
Listrik Nasional. Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir, BATAN. Diperoleh
dari: http://www.batan.go.id/ptbn/php/pdf-publikasi /PIN/ pin-pdf/
06Anto.pdf. Diakses pada: 5 Mei 2012.
Howard, Rhonda. 2010. Acid Rain
and Heart Disease. Diperoleh pada: http://www.ehow.co.uk/about_5640136_ acid- rain- heart-
disease .html. Diakses pada: 4 Mei 2012.
Likens, Gene . 2010. Acid Rain.
Diperoleh dari: http://www.eoearth.org/article/ Acid_rain?topic.
Diakses pada 4 Mei 2012.
Nandika, Dodi.,2004. Hujan Asam
Suatu Fenomena yang Mengancam Kelestarian Hutan. Sataf Pengajar Jurusan
Teknologi Hasil Hutan-IPB. Diperoleh dari: http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/
123456789/ 23543/Dodi% 20Nandika_RK.pdf?sequence=1. Diakses pada: 5 Mei 2012.
Ophardt, C.O., 2003. Acid Rain.
Diperoleh dari: http://www.elmhurst.edu/~chm/vchembook. Diakses
pada 4 Mei 2012.
Rahardiman, Arya. 2009. Hujan
Asam. Diperoleh dari: http://keslingbanget.blogspot.com/2009/03/ hujan -asam. html.
Diakses pada: 5 Mei 2011.
Rahmawaty, 2002. Dampak
Pencemaran Udara Terhadap Tumbuhan. Fakultas Pertanian Program Ilmu
Kehutanan Universitas Sumatera Utara. Diperoleh dari: http://repository.usu.ac.id/bitstream /123456789/857/1/
hutan-rahmawaty2.pdf. Diakses pada 5 Mei 20112.
Sumahamijaya,I., 2009. Hujan Asam
Menghancurkan Bumi. Diperoleh dari http://majarimagazine.com/2009/03/ hujan – asam – mencegah –
global – warming-menghancurkan- bumi/. Diakses pada 5 Mei 2012.